Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata berkilat-kilat tersemat diantara rambutnya. Ia nampak seperti jelmaan dewi. Sungguh, bulu matanya menaut mataku padanya. Namun dalam dadaku ada perih yang terasa membakar jantung.
Lelaki yang Mati Memeluk Gitar
Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata berkilat-kilat tersemat diantara rambutnya. Ia nampak seperti jelmaan dewi. Sungguh, bulu matanya menaut mataku padanya. Namun dalam dadaku ada perih yang terasa membakar jantung.
Setelah Mengejar Layang-layang
![]() |
| cover novel "The Kite Runner" sumber: google |
Tadi siang
saya baru saja menamatkan sebuah novel judulnya “The Kite Runner” karya Khaled
Hosseini. Buku itu saya pinjam dari seorang teman setelah mendapat rekomendasi
dari dia. Sebetulnya saya sudah punya versi ebook-nya, namun kurang menggairahkan
membaca melalui ebook.
Orang di Kepalaku
Aku ingin seseorang
Yang datang kepadaku membawa ribuan bungkus rahasia
Tiap kali kukoyak sampulnya
Aku jatuh semakin dalam padanya
Yang datang kepadaku membawa ribuan bungkus rahasia
Tiap kali kukoyak sampulnya
Aku jatuh semakin dalam padanya
Subscribe to:
Comments (Atom)
Lelaki yang Mati Memeluk Gitar
Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...
-
Bunga dan tangkainya kini mulai mengenal pisah Sejak kemarau mulai meracuni ranting-ranting menjadi rapuh Dinding duniaku pun retak ka...
-
Empat kuntum bunga melati darimu masih harum dalam sakuku Malam itu, segala risau, takut, kegelisahan, ketakutan, keputusasaan, Seketi...
-
Matamu menatap amat dalam Berlapis beningnya airmata yang sebentar lagi jatuh menyusuri pipimu


