Silariang II

Bunga dan tangkainya kini mulai mengenal pisah
Sejak kemarau mulai meracuni ranting-ranting menjadi rapuh
Dinding duniaku pun retak karena ia tak berongga

Di malam itu,
aku mendayung sampan yang digenangi air
Dan dermaga tak menampakkan ujungnya saat piluku di ambang abadi
Hanya suara-suara jeritanmu yang berderai mengarungi sel otakku
Mengubah rindu yang seketika menjadi resah
Senyum menjadi pilu dan mimpiku kini melototi angan-angan yang fatamorgana

Sungguh kualihkan surgaku menjadi neraka saat kutahu diriku rapuh tak berdaya,
diinjak-injak oleh kecerobohan menembus waktu
Ammata adalah tirai dan Tettata adalah wujud perisai yang siap melumat jantungku
dan setelah itu jantungmu, andikku
Mereka berpadu menciptakan panorama menjadi fatamorgana
Tidak mungkin nafasmu akan sesak
hanya karena bersandar di bahu yang tak kokoh ini, sayang

Kekasih,
aku tak hadir di malam itu,
menjemputmu dengan empat kuntum bunga melatimu
Bukan karena diriku mengikuti perintah langit akan ketakutannya menjadi runtuh
Tapi apakah arti kehadiran surga jika tuhanpun enggan mempertemukan kita disana?
Karena cintaku jelas abadi
Disanalah kita akan bersama
menikmati sajian-sajian dari tuhan
Menikmati aroma tubuh kita,
Tentu dengan kebiasaan mencium keningmu sebelum tidur
Sembari bidadari dan wildan akan berkata “kalianlah simbol cinta itu”
Dunia hanya sementara, kekasihku...
Jika disini rome dan juliet, datu museng dan maipa, laila dan majnun, dan di surga...
hanya kau dan aku

Beginilah aku mencintaimu, kekasihku
Aku memilih mati di laut Makassar ini
sekalipun mayatku akan menjadi karang

Cepatlah menua dan mati, kekasihku

Aku tak akan selingku dengan bidadari-bidadari yang dijanjikan tuhan

---
Saya berterimakasih pada kanda Muliadi karena sudah membuat balasan atas puisi saya dalam pementasan tahunan ekskul sastra sekolah. Saya tidak bosan-bosan membaca puisi itu berulang-ulang. Lalu setelah saya membacanya, maka perasaan saya akan jadi miris membayangkan jika tokoh dalam puisi itu benar-benar ada. 

Sang wanita dengan kegundahannya menunggu sang lelaki untuk pergi bersama, menentang segala halangan yang menghalau mereka (baca:Silariang). Namun sang lelaki tak kunjung datang. Bukan karena tak berani, namun ternyata takdir tak mengijinkan mereka melawan aturan yang ada. Sang lelaki hanya mampu meratapi jeritan sang wanita sambil meminta dalam doanya agar sang wanita ikhlas menjalani semuanya dan menunggu pertemuan di surga nanti. 

Saya selalu merasa sedih dan seperti ingin menangis jika membacanya. Hati saya pilu membayangkannya. Tapi sayang sekali batin saya sudah terlalu batu, tidak lagi selembut perempuan pada umumnya. Jadi air mata saya tidak lagi bisa dengan mudah mengalir untuk hal seperti ini, haha.

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...