Bunga dan tangkainya kini mulai
mengenal pisah
Sejak kemarau mulai meracuni
ranting-ranting menjadi rapuh
Dinding duniaku pun retak karena ia
tak berongga
Di malam itu,
aku mendayung sampan yang digenangi
air
Dan dermaga tak menampakkan ujungnya
saat piluku di ambang abadi
Hanya suara-suara jeritanmu yang
berderai mengarungi sel otakku
Mengubah rindu yang seketika menjadi
resah
Senyum menjadi pilu dan mimpiku kini
melototi angan-angan yang fatamorgana
Sungguh kualihkan surgaku menjadi
neraka saat kutahu diriku rapuh tak berdaya,
diinjak-injak oleh kecerobohan
menembus waktu
Ammata adalah tirai dan Tettata
adalah wujud perisai yang siap melumat jantungku
dan setelah itu jantungmu, andikku
Mereka berpadu menciptakan panorama
menjadi fatamorgana
Tidak mungkin nafasmu akan sesak
hanya karena bersandar di bahu yang
tak kokoh ini, sayang
Kekasih,
aku tak hadir di malam itu,
menjemputmu dengan empat kuntum bunga
melatimu
Bukan karena diriku mengikuti
perintah langit akan ketakutannya menjadi runtuh
Tapi apakah arti kehadiran surga jika
tuhanpun enggan mempertemukan kita disana?
Karena cintaku jelas abadi
Disanalah kita akan bersama
menikmati sajian-sajian dari tuhan
Menikmati aroma tubuh kita,
Tentu dengan kebiasaan mencium
keningmu sebelum tidur
Sembari bidadari dan wildan akan
berkata “kalianlah simbol cinta itu”
Dunia hanya sementara, kekasihku...
Jika disini rome dan juliet, datu
museng dan maipa, laila dan majnun, dan di surga...
hanya kau dan aku
Beginilah aku mencintaimu, kekasihku
Aku memilih mati di laut Makassar ini
sekalipun mayatku akan menjadi karang
Cepatlah menua dan mati, kekasihku
Aku tak akan selingku dengan
bidadari-bidadari yang dijanjikan tuhan
---
Saya berterimakasih pada kanda Muliadi karena sudah membuat balasan atas puisi
saya dalam pementasan tahunan ekskul sastra sekolah. Saya tidak bosan-bosan membaca puisi
itu berulang-ulang. Lalu setelah saya membacanya, maka perasaan saya akan jadi miris membayangkan jika tokoh dalam puisi itu
benar-benar ada.
Sang wanita dengan kegundahannya menunggu sang lelaki untuk pergi bersama, menentang segala halangan yang menghalau mereka (baca:Silariang). Namun sang lelaki tak kunjung datang. Bukan karena tak berani, namun ternyata takdir tak mengijinkan mereka melawan aturan yang ada. Sang lelaki hanya mampu meratapi jeritan sang wanita sambil meminta dalam doanya agar sang wanita ikhlas menjalani semuanya dan menunggu pertemuan di surga nanti.
Saya selalu merasa sedih dan seperti ingin menangis jika membacanya. Hati saya pilu membayangkannya. Tapi sayang sekali batin saya sudah terlalu batu, tidak lagi selembut perempuan pada umumnya. Jadi air mata saya tidak lagi bisa dengan mudah mengalir untuk hal seperti ini, haha.
Sang wanita dengan kegundahannya menunggu sang lelaki untuk pergi bersama, menentang segala halangan yang menghalau mereka (baca:Silariang). Namun sang lelaki tak kunjung datang. Bukan karena tak berani, namun ternyata takdir tak mengijinkan mereka melawan aturan yang ada. Sang lelaki hanya mampu meratapi jeritan sang wanita sambil meminta dalam doanya agar sang wanita ikhlas menjalani semuanya dan menunggu pertemuan di surga nanti.
Saya selalu merasa sedih dan seperti ingin menangis jika membacanya. Hati saya pilu membayangkannya. Tapi sayang sekali batin saya sudah terlalu batu, tidak lagi selembut perempuan pada umumnya. Jadi air mata saya tidak lagi bisa dengan mudah mengalir untuk hal seperti ini, haha.
No comments:
Post a Comment