"sebuah sajak yang ditulis karena ilham dari seorang teman yang sering diejek dan mengejek diri sendiri buruk rupa"
Cara Merindukanku
Kau Pilih Mana, Kau Mencintaiku atau Aku Mencintaimu?
Malam itu biasa saja. Latihan teater kami baru saja berakhir. Aku melangkah pelan menuju tempat parkir dimana motorku kuparkikrkan. Belum lagi kunyalakan mesin motorku, ia datang menghampiriku. Ia datang dengan wajah sumringah. Dari raut wajahnya aku tahu pastilah ia ingin minta diantar pulang olehku. Dan benar saja, dari bibirnya kudengar permintaan itu ditujukan buatku.
Tentang Rindu yang Kembali
Ini tentang rindu.
Rinduku.
Rinduku itu sederhana.
Hanya karena namamu
hanya karena sapamu
hanya karena bayangmu
aku bisa rindu.
Dan lupanya bisa sangat sukar.
Ah, aku jadi rindu.
Entah kapan lupanya.
Rinduku.
Rinduku itu sederhana.
Hanya karena namamu
hanya karena sapamu
hanya karena bayangmu
aku bisa rindu.
Dan lupanya bisa sangat sukar.
Ah, aku jadi rindu.
Entah kapan lupanya.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Lelaki yang Mati Memeluk Gitar
Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...
-
Bunga dan tangkainya kini mulai mengenal pisah Sejak kemarau mulai meracuni ranting-ranting menjadi rapuh Dinding duniaku pun retak ka...
-
Empat kuntum bunga melati darimu masih harum dalam sakuku Malam itu, segala risau, takut, kegelisahan, ketakutan, keputusasaan, Seketi...
-
Matamu menatap amat dalam Berlapis beningnya airmata yang sebentar lagi jatuh menyusuri pipimu