Tapi...

Matamu menatap amat dalam
Berlapis beningnya airmata yang sebentar lagi jatuh menyusuri pipimu

Makna dalam katamu telah aku pahami
Aku hapalkan baik-baik diksinya
Kuresapi dalam-dalam maknanya
Sepertinya memang segala asa tak cukup membuat kita menjadi satu

Bagaikan dedaunan di musim gugur
Angan-angan kita perlahan hangus terbakar senja
Hari-hari yang ada dalam impian jadi terlampau jauh terjangkau
Engkau telah punya harapan yang pasti
Sedang aku tak pernah mengerti seperti apa itu masa depan
Aku memang tak pernah bisa menawarkan apa yang dijanjikannya kepada ayah ibumu

Tapi, sayangku
Kita telah terlampau banyak bermimpi
Terlalu banyak membayangkan kita menjadi satu
Dalam suatu masa yang indah
Meniti jalan yang serupa

Kita dibuai angan-angan
Tak perlu kata
Sebab kita telah mengerti seperti apa rindu membelenggu kita
Kita, dibuai rasa

Sebelum segalanya benar-benar usai
Izinkan kita nikmati satu sore yang menghanyutkan
Mari kita tertawakan apa yang sudah kita lupakan
Mari kita nikmati angan-angan yang sebentar lagi akan hancur
Tak apa ada air mata
Biar kuseka milikmu, tapi izinkan punyaku mengering dengan sendirinya

Tapi, sayangku
Jika kau berkenan
Melepaskan dikte ayah ibumu tentang kehidupan yang indah
Lalu melangkah pada jalanku yang amat gelap
Gapailah tanganku
Genggam amat erat
Tumbuhkan lagi semangat akan kebahagiaan yang mungkin hanya fana

Dan jangan tanyakan bagaimana aku melakukannya

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...