Matamu menatap amat dalam
Berlapis beningnya airmata yang
sebentar lagi jatuh menyusuri pipimu
Makna dalam katamu telah aku pahami
Aku hapalkan baik-baik diksinya
Kuresapi dalam-dalam maknanya
Sepertinya memang segala asa tak
cukup membuat kita menjadi satu
Bagaikan dedaunan di musim gugur
Angan-angan kita perlahan hangus
terbakar senja
Hari-hari yang ada dalam impian jadi
terlampau jauh terjangkau
Engkau telah punya harapan yang pasti
Sedang aku tak pernah mengerti
seperti apa itu masa depan
Aku memang tak pernah bisa menawarkan
apa yang dijanjikannya kepada ayah ibumu
Tapi, sayangku
Kita telah terlampau banyak bermimpi
Terlalu banyak membayangkan kita
menjadi satu
Dalam suatu masa yang indah
Meniti jalan yang serupa
Kita dibuai angan-angan
Tak perlu kata
Sebab kita telah mengerti seperti apa
rindu membelenggu kita
Kita, dibuai rasa
Sebelum segalanya benar-benar usai
Izinkan kita nikmati satu sore yang
menghanyutkan
Mari kita tertawakan apa yang sudah
kita lupakan
Mari kita nikmati angan-angan yang
sebentar lagi akan hancur
Tak apa ada air mata
Biar kuseka milikmu, tapi izinkan
punyaku mengering dengan sendirinya
Tapi, sayangku
Jika kau berkenan
Melepaskan dikte ayah ibumu tentang
kehidupan yang indah
Lalu melangkah pada jalanku yang amat
gelap
Gapailah tanganku
Genggam amat erat
Tumbuhkan lagi semangat akan
kebahagiaan yang mungkin hanya fana
Dan jangan tanyakan bagaimana aku
melakukannya
No comments:
Post a Comment