Di luar sana, hujan masih dengan
kekejamannya membasahi jemuran-jemuran yang telah mengering dan membanjiri
selokan kota yang selalu tersumbat. Di dalam sini, tentu tak akan ada hujan.
Yang ada adalah dinding kaca toko-toko yang menatap sinis pada konyolnya
kepolosan bocah satu ini.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Lelaki yang Mati Memeluk Gitar
Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...
-
Bunga dan tangkainya kini mulai mengenal pisah Sejak kemarau mulai meracuni ranting-ranting menjadi rapuh Dinding duniaku pun retak ka...
-
Empat kuntum bunga melati darimu masih harum dalam sakuku Malam itu, segala risau, takut, kegelisahan, ketakutan, keputusasaan, Seketi...
-
Matamu menatap amat dalam Berlapis beningnya airmata yang sebentar lagi jatuh menyusuri pipimu