Diujung koridor itu, seorang gadis menatap sendu pada lapangan dihadapannya. Dinding yang sekitar satu meter lebih itu jadi tumpuan sikutnya. Aku tahu, pasti ada sesuatu yang mengusik kebahagiaannya kali ini. Aku tahu, sebab dia adalah gadisku -- begitu inginku.
Aku sapa ia bermaksud ingin membantu menghilangkan gusarnya. "Aku merindukan lelakiku. Ia tak hadir hari ini, 'kan?" jawabnya yang menerbitkan sedikit perih dalam dadaku.
"Lelakimu?"
Aku sapa ia bermaksud ingin membantu menghilangkan gusarnya. "Aku merindukan lelakiku. Ia tak hadir hari ini, 'kan?" jawabnya yang menerbitkan sedikit perih dalam dadaku.
"Lelakimu?"