Pulsa

Diujung koridor itu, seorang gadis menatap sendu pada lapangan dihadapannya. Dinding yang sekitar satu meter lebih itu jadi tumpuan sikutnya. Aku tahu, pasti ada sesuatu yang mengusik kebahagiaannya kali ini. Aku tahu, sebab dia adalah gadisku -- begitu inginku.

Aku sapa ia bermaksud ingin membantu menghilangkan gusarnya. "Aku merindukan lelakiku. Ia tak hadir hari ini, 'kan?" jawabnya yang menerbitkan sedikit perih dalam dadaku.

"Lelakimu?"

Silariang

Empat kuntum bunga melati darimu masih harum dalam sakuku
Malam itu, segala risau, takut, kegelisahan, ketakutan, keputusasaan,
Seketika menjadi satu dalam rindu yang mempertemukan kita
Engkau dangan kelimbunganmu yang tak rela melepaskanku

Patrick Star Menjadi Otto Iskandardinata


Bel tanda jam istirahat sudah berbunyi. Tapi Ali masih saja sibuk dengan catatannya. Ia tengah serius menyalin tugas dari temannya. Sama sekali ia tak merasa terganggu dengan suasana sekitarnya. Teman-temannya telah keluar masuk kelas – ada yang membawa makanan, ada pula yang tidak – tapi ia masih saja begitu serius menyelesaikan apa yang ia kerjakan. Padahal biasanya ia begitu tak acuh pada tugas-tugas yang diberikan kepadanya.

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...