Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata berkilat-kilat tersemat diantara rambutnya. Ia nampak seperti jelmaan dewi. Sungguh, bulu matanya menaut mataku padanya. Namun dalam dadaku ada perih yang terasa membakar jantung.
Di sana ia tengah
bersanding mesra dengan lelakinya, sedang di sini aku menjadi satu-satunya yang
tak mendoakan kebaikan untuk mereka.
Seharusnya ia
menjadi perempuanku, kalau bukan karena kejamnya adat dan gengsi. Aku hanya seorang lelaki yang tak pernah
mampu mengisi saku hingga tebal. Hari-hariku yang nampak hanya berputar
diantara puisi atau senar gitar. Sedangkan, kerabatnya lebih berselera pada lelaki dengan pangkat di
pundaknya, yang mampu menyewa ballroom sebuah hotel berbintang supaya bisa
menjamu seluruh kenalannya. Tentu saja, aku secara otomatis tersingkir dari
daftar.
Sungguh dia
benar-benar tega. Membawakanku sepucuk undangan yang nampak manis sekaligus
angkuh ini kepadaku yang artinya aku berkewajiban untuk datang dan menyaksikan
kebahagiaan mereka. Padahal dengan
datangku, aku seperti menghadiri pemakaman untuk diriku sendiri.
*
Siang itu pagar rumahku mendecit kekurangan pelumas. Seseorang bertudung
kelabu di ambangnya yang kemudian kutahu, ia adik sepupumu. Kujamu hampa ia di
jajaran kursi mengenaskan berandaku. Dengan tangannya ia sodorkan undangan
milikmu itu. Aku sekuat tenaga menahan petir yang menggelegar di dalam dadaku.
Dan harus kau tahu, adik sepupumu baru saja menuntaskan misi merusak hari
mingguku seketika setelah ia memunggungiku pamit pulang. Apakah kau yang
mengamanahi misi itu?
Tidak kusangka begitu cepat. Malam minggu tiga pekan sebelumnya, aku
masih mencium keningmu selepas mengurai kesal di dahimu. Siang itu kudapati
sepucuk undangan yang memuat namamu dan nama lelaki yang bukan diriku. Dan
malam ini – tepat sebulan sesudah datang undangan itu ke tanganku – aku
menyaksikanmu menyalami kolega-kolega lelaki asing itu. Ah, sang waktu terlalu
terburu-buru menyudahi kebahagiaan kita, kasih.
Berulang kali pak tua itu menawariku jamuan yang kalian sediakan bagi
para tamu, akupun mengucapkan “nanti” berulang kali juga. Aku hanya duduk,
memandang kalian semua sebelum menyadari kehadiran lelaki yang hina ini. Lelaki
hina yang naik ke pelaminanmu, saling bertatap denganmu dalam-dalam, lantas
memelukmu erat begitu khidmat. Menumpahkan segala rindu dan getir yang menjalar
liar di rongga dadaku tanpa mempedulikan lelaki bangsat di sisimu dan seluruh
sanak saudara kalian yang mencibir. Lalu waktu darah lelaki itu meninggi dan
mencoba membuat jarak di raga kita, aku timpa pandangannya dengan mata lelaki
yang dihasut jiwa Rama yang siap berperang merebut kembali Sinta-nya dari
Rahwana.
Tapi aku masih disini. Perlahan baru naik ke panggung kalian berdua. Itu semua cuma angan-angan yang kalah
oleh jiwa pengecutku. Kau menunduk. Kulihat ada yang bening berkilat-kilatan di
matamu. Serasa dunia menjadi bisu waktu bibirku memaksa sebuah senyuman dan
salam-pelukan pada lelaki di sisimu itu. Dan memang hening. Kita tidak
mengungkit apapun yang sudah kita saling tukarkan di malam-malam sebelum ini.
Setelahnya aku melangkah pergi. Aku masih melihat kilat-kilatan yang memantul
di matamu itu. Aku berpikir. Barangkali bagus juga, seorang lelaki yang mati
memeluk gitar diantara puisi-puisinya.
Aku mau pulang, lalu memulai tulisan.

No comments:
Post a Comment