![]() |
| cover novel "The Kite Runner" sumber: google |
Tadi siang
saya baru saja menamatkan sebuah novel judulnya “The Kite Runner” karya Khaled
Hosseini. Buku itu saya pinjam dari seorang teman setelah mendapat rekomendasi
dari dia. Sebetulnya saya sudah punya versi ebook-nya, namun kurang menggairahkan
membaca melalui ebook.
Kata teman
saya, buku itu sangat bagus. Dia yang awalnya sebetulnya tidak begitu tertarik
membacanya, menjadi takjub dengan isinya. Saya sudah tahu novel tersebut memang
bagus sebab novel tersebut telah difilmkan dan saya pernah melihat
rekomendasinya dari sebuah program tv. Hanya saja saya belum sempat menonton
dan menuntaskan bukunya. Kemudian teman saya meminjami novelnya yang akhirnya
baru bisa saya tuntaskan setelah kurang- lebih sebulan di tangan saya. Maklumlah
kebiasan menumpuk akut yang saya idap.
Saya sudah
lupa kapan terakhir kali saya merasa begitu bergairah terhadap sebuah buku
cerita yang sampai-sampai membuat saya ingin sekali membuka halaman belakang
untuk mengetahui akhir ceritanya. Dari novel ini saya bisa merasakan kembali
gelora itu. Tak heran bila buku ini mendapat begitu banyak pujian dan dicetak
dalam beberapa bahasa. Ketika membaca
saya mendapat kesan yang begitu mendalam dari cerita masa kecil Amir dan
Hassan. Seperti saya turut merasakan emosi dari sang tokoh utama. Ceritanya
memang bukan fiksi-ilmiah ataupun fantasi yang berada di luar nalar, tapi alurnya
tetap begitu mengejutkan dan tak tertebak. Saya begitu terhanyut ketika membaca
sampai tak sempat memikirkan akan seperti apa jalan cerita di halaman
selanjutnya.
Kebanyakan dari
isi blog ini mungkin cenderung hiperbolik. Tapi percayalah, yang satu ini saya
tidak melebih-lebihkan hehehe. Ini sungguh adalah kesan saya seusai
menuntuaskan novel karangan Khaled Hosseini ini.

No comments:
Post a Comment