Empat
kuntum bunga melati darimu masih harum dalam sakuku
Malam
itu, segala risau, takut, kegelisahan, ketakutan, keputusasaan,
Seketika
menjadi satu dalam rindu yang mempertemukan kita
Aku
dengan kekhawatiranku akan masa depan
Langit
malam kehilangan bintang
Sebab
sorot mata penuh harapan itu kian sayu
Di
dermaga sana ada sebuah sampan
Yang
kukira kita akan mendayungnya bersama
Menuju
pantai di belahan bumi yang lain
Namun
aku dan kau terlahir di dunia yang punya begitu banyak batasan
Aturan,
dan garis yang tak pernah jelas maknanya
Aku
mengerti ada begitu banyak hal yang membuat kita nampak begitu berbeda
Tapi
kenapa kita harus tertipu dengan semua ini kalau bukan karena takdir?
Mengapa
bulan masih saja menawarkan mimpi kepada kita?
Aku
ingin kau menembus batas-batas itu
Berlari,
menerobos ruang hanya demi berkata “aku cinta kau”
Datanglah,
jemput aku
Renggut
aku dari pangkuan ayah ibuku
Musnahkan
segala teori yang masih membelenggu
Bawa
aku sembari menggenggam tanganku
Hantar
ke tempat kita bisa saling menikmati aroma tubuh keduanya
Sekalipun
pelangi tak sudi lagi menyapa
Sekalipun
seberkas surga tak lagi harum baunya
Sekalipun
untaian kata tak lagi manis terdengar
Dekaplah
aku dalam hangat angan-anganmu
Aku
ikhlas melepas jiwa dalam raga
Merangkai
segala ketidakmungkinan yang membayang
Biarpun
dosa akan menjemput diujung keabadian
No comments:
Post a Comment