Pulsa

Diujung koridor itu, seorang gadis menatap sendu pada lapangan dihadapannya. Dinding yang sekitar satu meter lebih itu jadi tumpuan sikutnya. Aku tahu, pasti ada sesuatu yang mengusik kebahagiaannya kali ini. Aku tahu, sebab dia adalah gadisku -- begitu inginku.

Aku sapa ia bermaksud ingin membantu menghilangkan gusarnya. "Aku merindukan lelakiku. Ia tak hadir hari ini, 'kan?" jawabnya yang menerbitkan sedikit perih dalam dadaku.

"Lelakimu?"


"Ah, sebenarnya bukan lagi"

"Kulihat kerinduan itu membuatmu begitu gamang. Kenapa kau tak menghubunginya saja? Sekedar basa-basi atau apalah?" aku dengan bodohnya memberi saran yang aku sendiri dalam hati tak rela ia melakukannya.

"Aku tak punya keberanian sebesar itu untuk berbasa-basi dengannya. Ia bukan lagi siapa-siapa bagiku, aku tak punya alasan menghubunginya." Senyum kecut tersungging di bibirnya.

"Hm...ya, sudah. Jadikan saja catatanku yang ia pinjam sebagai alasannya. Katakan saja bahwa kau ingin meminjamnya juga" sekali lagi aku membunuh diriku sendiri.

Awalnya ia begitu sumringah mendengar ide dariku. Namun kemudian senyumnya luruh. Kuharap itu karena ia merasa tak enak hati padaku.

"Kenapa lagi?" tanyaku mencoba memastikan.

Dengan malu-malu ia kemudian berkata "Aku kehabisan pulsa"

"Ya, sudah. Gunakan saja ponselku"

"Benar tak apa?"

"Iya, tak apa"

"Terimakasih" ucapnya seraya mengambil ponsel yang kusodorkan dengan berat hati.

Pembicaraan mereka menjadi sangat panjang, dan aku begitu setia menyaksikan dia berbincang begitu bahagia dan mesra. Saat itu juga kurelakan pulsaku pergi, bersama gadisku.

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...