Bel
tanda jam istirahat sudah berbunyi. Tapi Ali masih saja sibuk dengan
catatannya. Ia tengah serius menyalin tugas dari temannya. Sama sekali ia tak
merasa terganggu dengan suasana sekitarnya. Teman-temannya telah keluar masuk
kelas – ada yang membawa makanan, ada pula yang tidak – tapi ia masih saja
begitu serius menyelesaikan apa yang ia kerjakan. Padahal biasanya ia begitu
tak acuh pada tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
“Hai, Ali!” sapa Ichal dengan begitu
sumringah. Ali tak menjawab apa-apa. Ia hanya balas menatap Ichal dengan wajah
yang datar. Ali sebenarnya sedikit jengkel karena kesibukannya diganggu. Ia
memilih untuk tidak berbicara apa-apa, dan hanya menatap Ichal dan behel yang
bersarang di giginya.
Berapa
lama tak ada kata yang terucap dari keduanya. Hanya senyum terpaksa yang khas
dari Ichal, dan tatapan jengkel dari Ali. Namun kemudian Ali merasa geli terus
diberi senyuman aneh oleh Ichal dan memilih angkat suara.
“Ada
apa, huh? Kau ini mengganggu saja orang yang sedang kerja PR!” kata Ali datar.
Sekarang giliran Ichal yang tak menjawab apa-apa. Ichal hanya mengeluarkan
selembar uang mainan bergambar Patrick Star dari kartun Spongebob Squarepants bernominal
20.000. Ali bingung. Ia tak mengerti untuk apa Ichal menyodorkan padanya secari
uang mainan itu.
“Ali,
boleh tidak aku minta uang darimu?”
“Huh?
Apa-apaan? Aku saja tidak ke kantin karena tidak punya uang.” Akhirnya jelas
sudah alasan mengapa Ali lebih memilih menghabiskan jam istirahatnya dengan
mengerjakan tugas.
“Ayolah,
Ali... Kita kan teman baik. Masa kau tak mau membantu temanmu ini? Aku sangat
perlu uang. Jam istirahat kedua uang mainan ini sudah harus berubah menjadi
uang sungguhan!”
Ali
semakin bingung. Bagaimana bisa uang itu berubah menjadi uang sungguhan.
Sepengtahunannya, tidak Ichal, tidak dirinya, tak ada satupun yang punya
kemampuan sulap.
“Bukan
begitu. Aku dipaksa mengambil uang ini. Lalu nanti senior akan datang dan
meminta aku mengembalikannya beserta uang sungguhan dengan nominal sama”
Ali
tertawa, menertawai nasib Ichal yang harus berurusan dengan senior. Selain itu,
wajah sengsara dan behel Ichal yang
nampak tidak serasi itu menambah geli Ali.
“Lantas
kenapa kau tak menolak?”
“Mana
berani aku!”
“Ah,
sudah. Aku mau menyelesaikan tugasku. Sana pergi!”
“Ali,
ayolah bantu temanmu ini...” Ichal memelas. Namun Ali tak menggubris. Berapa
lama Ichal mencoba membujuk Ali, akhirnya Ichal menyerah dan pergi meninggalkan
Ali menuju temannya yang lain.
Ichal
kemudian meminta pada temannya yang lain. Namun yang ia dapat hanya tertawaan
yang sama dengan yang dilakukan Ali.
Waktu
berselang. Akhirnya senior yang dimaksud datang bersama komplotannya. Mereka
lekas meminta uang pada Ichal. Ternyata Ichal berhasil menjalankan misi
mustahil itu (baca: mission impossible). Tak banyak percakapan yang terjadi di
antara mereka. Sang senior kemudian pergi tanpa ada ucapan terimakasih.
No comments:
Post a Comment