Patrick Star Menjadi Otto Iskandardinata


Bel tanda jam istirahat sudah berbunyi. Tapi Ali masih saja sibuk dengan catatannya. Ia tengah serius menyalin tugas dari temannya. Sama sekali ia tak merasa terganggu dengan suasana sekitarnya. Teman-temannya telah keluar masuk kelas – ada yang membawa makanan, ada pula yang tidak – tapi ia masih saja begitu serius menyelesaikan apa yang ia kerjakan. Padahal biasanya ia begitu tak acuh pada tugas-tugas yang diberikan kepadanya.

“Hai, Ali!” sapa Ichal dengan begitu sumringah. Ali tak menjawab apa-apa. Ia hanya balas menatap Ichal dengan wajah yang datar. Ali sebenarnya sedikit jengkel karena kesibukannya diganggu. Ia memilih untuk tidak berbicara apa-apa, dan hanya menatap Ichal dan behel yang bersarang di giginya.

Berapa lama tak ada kata yang terucap dari keduanya. Hanya senyum terpaksa yang khas dari Ichal, dan tatapan jengkel dari Ali. Namun kemudian Ali merasa geli terus diberi senyuman aneh oleh Ichal dan memilih angkat suara.

“Ada apa, huh? Kau ini mengganggu saja orang yang sedang kerja PR!” kata Ali datar. Sekarang giliran Ichal yang tak menjawab apa-apa. Ichal hanya mengeluarkan selembar uang mainan bergambar Patrick Star dari kartun Spongebob Squarepants bernominal 20.000. Ali bingung. Ia tak mengerti untuk apa Ichal menyodorkan padanya secari uang mainan itu.

“Ali, boleh tidak aku minta uang darimu?”

“Huh? Apa-apaan? Aku saja tidak ke kantin karena tidak punya uang.” Akhirnya jelas sudah alasan mengapa Ali lebih memilih menghabiskan jam istirahatnya dengan mengerjakan tugas.

“Ayolah, Ali... Kita kan teman baik. Masa kau tak mau membantu temanmu ini? Aku sangat perlu uang. Jam istirahat kedua uang mainan ini sudah harus berubah menjadi uang sungguhan!”

Ali semakin bingung. Bagaimana bisa uang itu berubah menjadi uang sungguhan. Sepengtahunannya, tidak Ichal, tidak dirinya, tak ada satupun yang punya kemampuan sulap.

“Bukan begitu. Aku dipaksa mengambil uang ini. Lalu nanti senior akan datang dan meminta aku mengembalikannya beserta uang sungguhan dengan nominal sama”

Ali tertawa, menertawai nasib Ichal yang harus berurusan dengan senior. Selain itu, wajah sengsara dan behel  Ichal yang nampak tidak serasi itu menambah geli Ali.
“Lantas kenapa kau tak menolak?”

“Mana berani aku!”

“Ah, sudah. Aku mau menyelesaikan tugasku. Sana pergi!”

“Ali, ayolah bantu temanmu ini...” Ichal memelas. Namun Ali tak menggubris. Berapa lama Ichal mencoba membujuk Ali, akhirnya Ichal menyerah dan pergi meninggalkan Ali menuju temannya yang lain.

Ichal kemudian meminta pada temannya yang lain. Namun yang ia dapat hanya tertawaan yang sama dengan  yang dilakukan Ali.

Waktu berselang. Akhirnya senior yang dimaksud datang bersama komplotannya. Mereka lekas meminta uang pada Ichal. Ternyata Ichal berhasil menjalankan misi mustahil itu (baca: mission impossible). Tak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka. Sang senior kemudian pergi tanpa ada ucapan terimakasih.


No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...