Malam itu biasa saja. Latihan teater kami baru saja berakhir. Aku melangkah pelan menuju tempat parkir dimana motorku kuparkikrkan. Belum lagi kunyalakan mesin motorku, ia datang menghampiriku. Ia datang dengan wajah sumringah. Dari raut wajahnya aku tahu pastilah ia ingin minta diantar pulang olehku. Dan benar saja, dari bibirnya kudengar permintaan itu ditujukan buatku.
Aku sama sekali tak keberatan. Memang sudah biasanya ia ikut pulang denganku. Lagipula aku tak tega membiarkan perempuan seperti dia pulang sendirian dengan kendaraan umum di malam hari seperti ini.
Motorku melenggang dengan kecepatan sedang. Angin malam berhembus pelan sepanjang jalan yang kulewati. Kami tidak berbincang terlalu banyak. Aku hanya fokus pada jalanan yang terhampar di hadapanku, sedang ia; nampak dari kaca spionku begitu khidmat menikmati langit malam.
"Hei!" ia tiba-tiba angkat suara. Kubalas sekenanya, "apa?"
"Kau pilih mana, kau mencintaiku atau aku mencintaimu?"
Pertanyaan aneh itu membuatku bungkam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku benar-benar bingung mengapa ia bisa mengeluarkan pertanyaan semacam itu. Karena tak punya kata-kata aku hanya balik bertanya "Maksudmu?"
Seberkas senyum kemudian terbit di bibirnya. Ia nampak begitu menikmati kebingunganku. Dan tak lama tawa kecilnya meluncur bagai keringat dingin yang tiba-tiba membasahi wajahku.
"Hehehe, itu tadi sepotong naskah yang diberikan om Coy. Aku suka sekali. Sedari tadi aku tidak bisa berhenti mengucapkannya. Sebentar lagi mungkin akan ada yang mengataiku orang gila karena terus mengulang-ulang sendiri kalimat itu." jelasnya.
Tak terasa kami sudah sampai di tujuannya. Ia segera turun dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Aku masih dengan kebingunganku atas kalimat aneh yang baru saja ia lontarkan. Mungkin itu hanya kalimat tak jelas yang tanpa sadar ia ucapkan, tapi sepotong kalimat itu benar-benar mengguncangku dan membuatku tidak bisa berhenti memandangnya sebelum ia benar-benar menghilang kedalam rumahnya.
No comments:
Post a Comment