Sore Terakhir

Pikiran Arman tak lagi terfokus pada penjelasan gurunya. Ia hanya menatap kosong pada dunia di luar jendela kelasnya. Tak peduli meski cahaya matahari membus kaca menyilaukannya. Hatinya tak tertambat sama sekali pada apa yang diterangkan gurunya. Seolah ada sesuatu, namun ia merasa bukan kegelisahan jam pelajaran terakhir seperti biasanya.

Suara bel yang telah dinanti sedari tadi telah berbunyi. Seluruh siswa bergegas membereskan segala barang-barangnya. Kecuali buku cetak yang memang sengaja ditinggalkan dalam laci agar tak memberatkan tas, katanya. Sang guru tak ingin kalah lekas. Ia sadar bahwa tak ada lagi siswa yang memperhatikan pelajarannya. Tanpa permisi ia kemudian meninggalkan kelas.

Arman keluar dari kelasnya dengan langkah enggan. Sedari tadi ia merasa gelisah, meski ia sendiri tak tahu penyebab kegelisahannya. Matanya sudah hampir membelah angkasa, namun pikirannya masih menerawang dalam drinya. Mencoba mencari tahu apa yang membuat ia begitu gelisah. Lamunannya segera buyar, setelah ia ingat pemberitahuan rapat organisasi yang harus ia hadiri sepualng sekolah. Nafasnya dihela, dan kakinya dengan berat dilangkahkan menuju tempat yang dimaksud.

Nasib rapat kali ini dan jam pelajaran terakhir Arman sama saja. Tak satupun yang diperhatikan olehnya. Sekali lagi kegelisahannya lebih menarik bagi Arman untuk diselidiki. Pulpennya ia main-mainkan, tatapannya menembus meja. Dan kemudian ia sadar, ayahnya telah hampir seminggu di rumah sakit.

Ditulisnya sebuah surat sebagai tanda permohonan izinnya. Ia lantas menyerahkan surat itu kepada ketua rapat

“Tumben kau izin. Ada apa?” tanya ketua rapat. Ia membuka surat izin dari Arman dan kemudian membacanya. “Oh. Ya sudah. Semoga ayahmu cepat sembuh,” ketua rapat memberi izin pada Arman setelah mengerti alasan Arman meminta izin.

Arman bergegas pergi. Ia pacu sepeda motornya dengan amat kencang agar segera sampai di rumah sakit tempat ayahnya terbaring. Dalam perjalanan, pikirannya terus berputar pada keadaan ayahnya. Ia merasa sangat durhaka, sebab setelah hampir satu minggu di rumah sakit, ini baru kedua kalinya ia menengok ayahnya.

Arman sesegera mungkin memarkirkan motornya. Ia mempercepat langkah kakinya menjajal koridor menuju bangsal ayahnya. Namun setelah sampai di depan pintu, ia kemudian ragu. Keraguan itu kemudian ditepis Arman. Ia melangkahkan kaki masuk ke bangsal tempat ayahnya terbaring.

Begitu Arman memasuki ruangan itu, ia amat terkejut melihat ayahnya. Ayahnya jadi jauh lebih kurus dari terakhir kali ia lihat. Ia hampir menangis melihat ayahnya yang begitu lemah sedang setengah berbaring di atas tempat tidurnya. Matanya jadi basah. Namun segera ia memalingkan muka untuk menghilangkan airmatanya yang hampir jatuh.

“Itu kau, Arman? Sini, nak.” Ucap ayah Arman dengan suara yang begitu lemah yang mungkin hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Arman kemudian duduk di pinggir tempat tidur ayahnya. Di situ ada kakak Arman yang kemudian pergi ke toilet sebentar.

“Kau dari sekolah, nak? Bagaimana sekolahmu, apakah baik-baik saja?” tanya ayahnya sekali lagi dengan suara yang sangat lemah.

“Iya, pak. Bapak tidak usah terlalu banyak bicara dulu. Itu nafas bapak sudah terengah-engah. Bapak istirahat saja” pinta Arman pada ayahnya yang nafasnya sudah begitu berat.

Susasana begitu hening. Hanya sesekali ayah Arman menanyakan kabar Arman yang kemudian dijawab Arman sekenanya sebab Arman tak ingin ayahnya terlalu banyak berbicara.

Beberapa lama sekembalinya kakak Arman, Arman memohon izin pada ayahnya untuk pulang. Ia ingat ada tugas yang harus ia selesaikan. Dengan berat Arman melangkah pergi meninggalakan ayahnya. Namun ia tetap pergi. Setidaknya ia sudah bisa melepaskan kerinduan pada ayahnya.

Setelah selesai melaksanakn shalat isya, Arman mengambil kunci motornya dan mengendarainya menuju sebuah pusat rental komputer. Ia ingin mengerjakan tugasnya disana. Dalam beberapa menit ia sudah menyelesaikan tugas sekolahnya. Karena bosan, ia memainkan game online yang ia biasa mainkan.

Arman begitu asyik memaikan permaian tersebut. Sampai-sampai ia tak sadar bahwa ibunya sudah berkali-kali meneleponnya. Baru setelah beberapa panggilan ia menjawabnya.

Ternyata ibunya menelepon menyuruh untuk Arman segera pulang. Katanya, ayah Arman sedang dalam keadaan kritis. Namun selayaknya anak remaja laki-laki, tentu tak bisa meninggalkan permanian yang sedang asyik ia mainkan. Bahkan Arman sampai menaikkan nada suaranya untuk menolak permintaan ibunya. Panggilan-panggilan berkutnya dari ibunya tak lagi ia gubris. Ia tetap melanjutkan permainannya.

Kemudian Arman merasa tidak enak hati. Ia sadar begitu keterlaluan pada ibunya. Ia menjadi khawatir akan perkataan ibunya mengenai ayahnya. Karena was-was, ia kemudian menghentikan permainannya. Dan segera pulang.

Di depan pagarnya, Arman menemui tantenya yang mengetuk-ngetuk memanggil kakak perempuannya yang sedang sendiri di rumah.

“Ada apa, tante?” tanya Arman pada tantenya.

Tante Arman terkejut dengan kedatangan Arman yang tiba-tiba. “Oh, Arman. Anu, Ayahmu sedang kritis di rumah sakit”

“Hah? Kalau begitu ayo kita cepat ke sana”

“Tunggu dulu. Aku panggil kakakmu dulu”

Arman menunggu kakaknya keluar dari rumah. Rasanya sudah begitu tak sabar ia ingin segera menengok ayahnya. Belum sempat Arman melihat kakaknya keluar dari rumah, datang paman Arman menghampirinya.

“Arman, benar ayahmu sudah tidak ada?” tanya paman Arman dengan polosnya.

Raut wajah Arman kemudian berubah. Ia terpaku beberapa saat. Kemudian dengan tergesa-gesa Arman menaiki motornya dan memacunya ke rumah sakit. Arman tak peduli begitu banyaknya kendaraan di jalan. Sebisanya ia menyalib agar dapat memprsingkat waktu agar segera sampai di tujuannya.

Setelah sampai, Arman segera turun dari motornya. Ia membiarkan sang juru parkir yang memarkirkan motornya. Ia berlari di tengah koridor tanpa memikirkan padangan orang terhadapnya. Matanya semakin merah menahan tangis.

Dibukanya pintu bangsal dengan segera. Ia mendapati ibunya dan salah seorang kakak lelakinya di pinggir ranjang ayahnya. Ibu dan kakaknya sudah menangis tersedu-sedu.

Arman tak mau berfikiran yang macam-macam. Arman berusaha berfikiran positif. Ia menggenggam tangan ayahnya yang telah terbaring kaku. Dingin ia rasakan. Meski tak mau menerima, ia mengerti bahwa ayahnya memang sudah tidak ada. Dalam benaknya lantas terputar memori bersama ayahnya. Lalu tangis Arman pecah, bahkan disertai raungan.

Arman keluar dari ruangan tersebut. Mencoba mencari ketenangan. Namun tetap saja air mata itu membanjiri pipinya. Yang ada dalam pikiran Arman adalah penyesalan. Penyesalan bahwa ia tak bisa memanfaatkan detik-detik terakhir hidup ayahnya dengan baik. Ia menangisi berbagai mimpi yang telah ia rajut untuk ayah dan ibunya.

Kemudian cahaya matahari membangunkan Arman. Arman begitu syok atas mimpinya barusan. Dengan perasaan yang masih buruk ia meloncat dari tempat tidurnya. Ia ingin memastikan kebenaran yang ada. Ia sampai di ruang makan. Dia mendapati ayahnya tengah menikmati kopi dengan pakaiannya yang terlihat sudah sangat siap berangkat kerja.

“Astaga, kau belum mandi? Memangnya kau tak mau ke sekolah?” tanya ayahnya.

Arman hanya terpaku menatap ayahnya yang begitu nikmat menyeruput kopinya, seolah tak ada beban pikiran. Tanpa Arman sadari, setetes airmata sudah mengalir di pipinya. Mimpi tersebut benar-benar berhasil mengacaukan pagi Arman.

***

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...