Jam istirahat kedua tidak lama lagi akan berakhir. Keram melanda kakiku begitu hebatnya. Tak heran, sebab waktu istirahat keduaku hanya kuhabiskan dengan tidur di bangkuku. Mataku masih begitu berat terasa. Aku tak bergeming dari tempat dudukku dan hanya menatap kosong pada proyeksi cahaya dari proyektor ketika teman-temanku memutar film.
Teman-teman sekelasku sebagian besar menonton film itu dengan begitu serius. Susasana kelas jadi tak terlalu gaduh sebagaimana kelasku saat jam istirahat. Mereka yang tidak ikut menonton lebih banyak yang memilih keluar dan bercengkrama dengan teman-teman lain di luar kelas. Aku tidak melakukan keduanya. Aku tetap di dalam kelas, tapi tak ikut menonton. Aku hanya sesekali menatap layar proyektor lalu kembali menatap sembarang arah untuk memperbaiki kesadaranku sehabis tidur. Kepalaku benar-benar terasa kacau mendapatkan tidur yang setengah-setengah macam itu.
Aku masih mencoba menghilangkan pusing kepalaku yang melanda, tiba-tiba datang seorang teman dengan tergesa-gesa dari balik pintu. Awalnya ia menanyakan apakah ada salah satu diantara kami yang bisa meminjamkan laptop. Tapi tak ada yang menggubrisnya. Ia kemudian melihat laptopku yang kebetulan hanya kuletakkan begitu saja di atas mejaku. Tentu saja karena itu, aku jadi sasaran utama pertanyaannya. Ia bertanya apakah laptopku punya aplikasi pengolah gambar di dalamnya. “Ada” jawabku sekenanya dengan perasaan yang sebenarnya masih kacau.
“Kalau begitu laptopmu kupinjamkan pada Tenri, ya?”
Pernyataan itu menyentak kesadaranku. Tenri, siswi yang sudah sejak lama kuperhatikan. Gadis yang tanpa sadar mencuri perhatianku. Dan kini ia akan menggunakan komputer jinjing milikku. Aku jadi gugup. Selama ini kami tak pernah sempat untuk berkomunikasi atau bahkan hanya saling mengenal. Jika ia benar akan meminjam laptopku, maka ini akan menjadi kesempatan pertama kami untuk berinteraksi.
Secara refleks aku menoleh menuju pintu untuk mencari sosok yang akan meminjam laptopku itu. Benar, ia tengah berada di depan pintu dengan harapan akan mendapatkan pinjaman laptop. Sebab tak sanggup untuk menatapnya lebih lama, aku palingkan lagi wajahku menuju teman di hadapanku. Akhirnya laptop itu kuserahkan kepadanya, dan membiarkan ia membawanya menuju Tenri. Setelahnya aku hanya menatap pada layar proyektor dan berusaha memahami jalan cerita film yang sudah setengah jalan terputar.
Mataku nampak sangat fokus pada film yang sedang diputar, tapi nyatanya aku tak menikmati apapun. Fikiranku hanya berputar memikirkan kira-kira akan jadi seperti apa selanjutnya nasib laptopku. Apakah laptopku akan dikembalikan langsung oleh Tenri dan membuat aku punya kesempatan untuk berinteraki dengannya untuk kali pertama? Ataukah ia akan hanya menitipkannya pada temanku untuk dikembalikan padaku?
Aku tidak sempat memperkirakan hal itu lebih lama. Kantuk kembali meyerangku. Jadi aku lebih memilih untuk melanjutkan tidurku yang baru saja membuahkan sakit pada kepalaku.
Sepertinya tidurku kali ini cukup panjang. Aku terbangun ketika pelajaran sudah hampir berakhir. Karenanya aku tidak tahu apakah ada guru yang masuk mengajar dan telah pergi ataukah memang tak ada guru yang masuk sedari tadi. Aku berharap sedari tadi tak ada guru yang masuk, atau setidaknya guru yang masuk tak menyadari aku sedang tertidur.
Kurengangkan badanku yang kesemutan. Aku lalu mulai membereskan barangku dan bersiap pulang. Ketika membuka tas, aku baru ingat bahwa ternyata laptop milikku telah dipinjam oleh Tenri. Menyadari hal itu aku jadi diam sejenak. Aku berpikir apakah aku akan memberanikan diriku untuk memintanya padanya, atau aku akan menunggu ia membawakannya padaku. Segera kutepis pikiranku dan kembali melanjutkan membereskan barang-barangku. Kuperiksa laciku untuk mengambil barang-barangku yang berada di dalamnya.
Selama memeriksa laci itu, aku mendengar suara seorang gadis tengah menanyakan keberadaanku. Sepertinya itu Tenri. Betapa senangnya aku mengetahui ia telah tahu namaku. Dan ketika aku bangkit sehabis memeriksa laci mejaku, aku telah mendapatinya berada persis di depan mejaku. Aku tentu sedikit terkejut. aku sebenarnya gugup karena tidak pernah berada sedekati itu dan bisa berinteraksi dengannya seperti itu. Tapi untuk menjaga harga diriku, aku berusaha tetap tenang.
Diserahkannya laptop yang sedang dalam proses non-aktif itu kepadaku. “Terimakasih, ya”, ucapnya. Kata itu diucapkan dengan ekspresi sebagaimana orang yang berterimakasih, tidak ada yang istimewa. Aku hanya menjawab ya sebagaimana orang yang mengatakan sama-sama, setelahnya ia melenggang pergi.
Seperti biasanya aku pulang dengan mengendarai motor. Sepanjang jalan aku melihat orang-orang yang menatapku seperti menatap orang yang gila. Kulihat pantulan wajahku di kaca spion, ternyata di bibirku ada senyum lebar yang tidak kusadari. Tapi peduli setan! Hari ini aku telah punya alasan kenapa aku harus menyukai pelajaran TIK.
Teman-teman sekelasku sebagian besar menonton film itu dengan begitu serius. Susasana kelas jadi tak terlalu gaduh sebagaimana kelasku saat jam istirahat. Mereka yang tidak ikut menonton lebih banyak yang memilih keluar dan bercengkrama dengan teman-teman lain di luar kelas. Aku tidak melakukan keduanya. Aku tetap di dalam kelas, tapi tak ikut menonton. Aku hanya sesekali menatap layar proyektor lalu kembali menatap sembarang arah untuk memperbaiki kesadaranku sehabis tidur. Kepalaku benar-benar terasa kacau mendapatkan tidur yang setengah-setengah macam itu.
Aku masih mencoba menghilangkan pusing kepalaku yang melanda, tiba-tiba datang seorang teman dengan tergesa-gesa dari balik pintu. Awalnya ia menanyakan apakah ada salah satu diantara kami yang bisa meminjamkan laptop. Tapi tak ada yang menggubrisnya. Ia kemudian melihat laptopku yang kebetulan hanya kuletakkan begitu saja di atas mejaku. Tentu saja karena itu, aku jadi sasaran utama pertanyaannya. Ia bertanya apakah laptopku punya aplikasi pengolah gambar di dalamnya. “Ada” jawabku sekenanya dengan perasaan yang sebenarnya masih kacau.
“Kalau begitu laptopmu kupinjamkan pada Tenri, ya?”
Pernyataan itu menyentak kesadaranku. Tenri, siswi yang sudah sejak lama kuperhatikan. Gadis yang tanpa sadar mencuri perhatianku. Dan kini ia akan menggunakan komputer jinjing milikku. Aku jadi gugup. Selama ini kami tak pernah sempat untuk berkomunikasi atau bahkan hanya saling mengenal. Jika ia benar akan meminjam laptopku, maka ini akan menjadi kesempatan pertama kami untuk berinteraksi.
Secara refleks aku menoleh menuju pintu untuk mencari sosok yang akan meminjam laptopku itu. Benar, ia tengah berada di depan pintu dengan harapan akan mendapatkan pinjaman laptop. Sebab tak sanggup untuk menatapnya lebih lama, aku palingkan lagi wajahku menuju teman di hadapanku. Akhirnya laptop itu kuserahkan kepadanya, dan membiarkan ia membawanya menuju Tenri. Setelahnya aku hanya menatap pada layar proyektor dan berusaha memahami jalan cerita film yang sudah setengah jalan terputar.
Mataku nampak sangat fokus pada film yang sedang diputar, tapi nyatanya aku tak menikmati apapun. Fikiranku hanya berputar memikirkan kira-kira akan jadi seperti apa selanjutnya nasib laptopku. Apakah laptopku akan dikembalikan langsung oleh Tenri dan membuat aku punya kesempatan untuk berinteraki dengannya untuk kali pertama? Ataukah ia akan hanya menitipkannya pada temanku untuk dikembalikan padaku?
Aku tidak sempat memperkirakan hal itu lebih lama. Kantuk kembali meyerangku. Jadi aku lebih memilih untuk melanjutkan tidurku yang baru saja membuahkan sakit pada kepalaku.
Sepertinya tidurku kali ini cukup panjang. Aku terbangun ketika pelajaran sudah hampir berakhir. Karenanya aku tidak tahu apakah ada guru yang masuk mengajar dan telah pergi ataukah memang tak ada guru yang masuk sedari tadi. Aku berharap sedari tadi tak ada guru yang masuk, atau setidaknya guru yang masuk tak menyadari aku sedang tertidur.
Kurengangkan badanku yang kesemutan. Aku lalu mulai membereskan barangku dan bersiap pulang. Ketika membuka tas, aku baru ingat bahwa ternyata laptop milikku telah dipinjam oleh Tenri. Menyadari hal itu aku jadi diam sejenak. Aku berpikir apakah aku akan memberanikan diriku untuk memintanya padanya, atau aku akan menunggu ia membawakannya padaku. Segera kutepis pikiranku dan kembali melanjutkan membereskan barang-barangku. Kuperiksa laciku untuk mengambil barang-barangku yang berada di dalamnya.
Selama memeriksa laci itu, aku mendengar suara seorang gadis tengah menanyakan keberadaanku. Sepertinya itu Tenri. Betapa senangnya aku mengetahui ia telah tahu namaku. Dan ketika aku bangkit sehabis memeriksa laci mejaku, aku telah mendapatinya berada persis di depan mejaku. Aku tentu sedikit terkejut. aku sebenarnya gugup karena tidak pernah berada sedekati itu dan bisa berinteraksi dengannya seperti itu. Tapi untuk menjaga harga diriku, aku berusaha tetap tenang.
Diserahkannya laptop yang sedang dalam proses non-aktif itu kepadaku. “Terimakasih, ya”, ucapnya. Kata itu diucapkan dengan ekspresi sebagaimana orang yang berterimakasih, tidak ada yang istimewa. Aku hanya menjawab ya sebagaimana orang yang mengatakan sama-sama, setelahnya ia melenggang pergi.
Seperti biasanya aku pulang dengan mengendarai motor. Sepanjang jalan aku melihat orang-orang yang menatapku seperti menatap orang yang gila. Kulihat pantulan wajahku di kaca spion, ternyata di bibirku ada senyum lebar yang tidak kusadari. Tapi peduli setan! Hari ini aku telah punya alasan kenapa aku harus menyukai pelajaran TIK.
No comments:
Post a Comment