Donor Darah

Di luar sana, hujan masih dengan kekejamannya membasahi jemuran-jemuran yang telah mengering dan membanjiri selokan kota yang selalu tersumbat. Di dalam sini, tentu tak akan ada hujan. Yang ada adalah dinding kaca toko-toko yang menatap sinis pada konyolnya kepolosan bocah satu ini.

Ada satu etalase yang tidak pernah terlihat angkuh. Adalah gerai Donor Darah. Ia terlihat hampa karena setiap kudapati, pasti selalu sepi. Namun perlahan seperti ada sesuatu yang terasa menarik hati. Persis tatapan sendu seorang gadis tanpa nama yang membikin resah sebelum tidur dan mengundang nalar untuk memberi penafsiran.

Aku datang dengan keisengan bercampur perasaan pahlawan yang berapi-api karena sudah berniat baik untuk kemanusiaan. Dengan sabar aku mengikuti hal-hal yang perlu dipenuhi. Cerita tentang peningnya kepala dan badan yang menjadi lemas tidak menjadi soal. Toh, PMI selalu memberi penawar secara gratis.

“Terimakasih, dik. Tapi maaf, umur adik belum cukup. Silahkan dibaca dan dipahami lagi persyaratannya dan kembali lagi kalau sudah cukup umur, ya?.” Hening mengantarai aku dan kakak cantik yang masih setia dengan senyumnya yang manis sekali.


Aku akhirnya merasakan patah hati untuk yang pertama kali. Sungguh, rasa malunya lebih  menampar daripada tertangkap basah oleh kepala dinas ketika menyontek di ujian nasional.

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...