Kita mundur beberapa langkah ke belakang. Kukenang gingsul gigimu yang ramah diantara lipatan-lipatan bangau sore itu. Kau tersenyum dan aku hanya mampu terdiam sinis menyembunyikan rasa pernah-berjumpa-entah-dimana.
Kembali diantara
lipatan bangau, remang koridor hanya mampu memberiku sepatah-dua kalimat.
Katamu “tak baik berjalan sendirian” yang kusanggah hanya dengan diam yang tak
membawaku pada perlawanan apa-apa. Kau antar aku hingga diambang pintu.
Kau tanya “mengapa tak
kunjung tidur?”. Tapi memangnya apa pedulimu soal tidurku? Hingga akhirnya semua peristiwa membawa gelisah jua pada tidurku.
Apa maksud bening
pantulan matamu?
Sebab apa kau taut
pada mataku?
Mata itu, senyum itu,
kebaikan itu. Dimana pernah kujumpai sebelumnya?
Sayang, kau jadikan
keentahan di jalan nalarku
Membuatku tak mampu
lagi memahami apa ingin yang hendak kuutarakan
Aku menerka-nerka
seperti apa semestinya kuhidangkan sayangku untukmu. Tapi bagaimana hendak
kuhidangkan, bila bahkan kau tak datang ke meja makanku?
Sayang, aku ingin
pulang
Ke pelukanmu
Tapi tak pernah kau
jadikan aku pemilik atas rumah di lenganmu
Aku ingin menangis
waktu kau rengkuh
Biar kutumpah lelahku
bersandiwara jadi manusia paling hebat di semesta
Sebab kukira aku tak
perlu jadi siapa-siapa untuk menempati sisimu
Katakan kau lelah.
Kusiapkan pengabuan untuk harapan yang beranak-pinak di dadaku.
No comments:
Post a Comment