Kopi dan Cerita yang Mengiringinya

Apa yang membuat kopi menjadi minuman yang amat populer di dunia? Apakah rasa pahitnya? Apakah hangatnya? Apakah susu yang ditambahkan ke dalamnya? Mungkin saja. Minuman ini juga punya kekuatan tersendiri dalam menghangatkan suasana. Tak heran warung-warung kopi sejak zaman dahulu selalu ramai akan cerita. Mulai cerita politik hingga cerita batu akik. Tapi bagiku bukan itu semua yang menjadikan kopi terasa begitu nikmat. Segala kenangan dan ketenangan yang dibawanyalah yang menjadikannya begitu nikmat.


Kopi. Aku punya hubungan emosional tersendiri dengan minuman ini. Semuanya bermula dari ayahku. Ayahku adalah ‘pecandu’ kopi. Tak ada hari yang akan dilaluinya tanpa kopi. Habis segelas, tak lama setelahnya ia akan minta segelas lagi. Padahal kopi yang ia minum bukan hanya seukuran cangkir, tetapi gelas kaca tinggi yang mungkin volumenya seukuran tiga cangkir teh biasa. Kopi yang diminumnya pun tak sembarangan. Ia tak begitu suka kopi-kopi kemasan instan. Ia hanya suka minum kopi hitam dari sebuah penggilingan kopi langganannya yang memang telah terkenal di penjuru kota.

Aku masih ingat betul bagaimana ketika ia sering menyuruhku menyeduhkan kopi untuknya. Semasa hidup ia sering menyuruhku, dan sering pula aku enggan melakukannya dengan alasan tidak tahu takaran dan tidak tahu cara menyeduh kopi agar nikmat. Tapi semakin kesini, aku jarang lagi membantah dan malah senang jika disuruh membuat kopi olehnya. Dengan kebiasaan itu, tak heran jika anak-anaknya juga banyak yang menggemari kopi. Diantara lima bersaudara, sebut saja aku dan dua orang kakakku menjadi penggemar kopi pula.

Semenjak kepergian ayahku, aku mulai ‘mencandu’ kopi juga. Hampir setiap hari aku mencari minuman ini. Meski sebenarnya ibuku tidak terlalu berkenan aku menjadi penggemar minuman ini, tapi tetap saja aku masih begitu suka. Aku sering mencuri kesempatan untuk dapat meminumnya. Di saat-saat pusing atau sakit kepala melandaku, aku selalu mencari minuman ini sebagai penawarnya. Aneh memang. Di saat orang lain mencari obat atau balsem saat sedang sakit kepala, aku malah mencari kopi untuk diminum.

Aku tidak tahu persis kenapa bisa sampai begitu menyukainya. Tapi yang pasti, sesaat sebelum tegukan pertama melewati bibirku, aku pasti akan terkenang akan ayahku dan kopi yang amat ia gemari. Mungkin itulah alasan kenapa aku sering mencuri kesempatan untuk meminum kopi. Karena itulah salah satu caraku meluapkan rinduku kepada ayahku.


Aku punya banyak teman yang menggemari kopi juga. Entah apakah mereka juga punya alasan tersendiri menikmati kopi atau memang hanya suka. Lantas bagaimana dengan kalian, apakah kalian juga punya cerita yang mengiringi kopi kalian?

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...