mungkin beginilah kira-kira isi hati perempuan dan laki-laki yang tengah berboncengan saat pulang.
---
Teramat khusyuk kunikmati desir angin ini. Sejuknya membuatku lupa pada pedih yang kurasakan. Biarpun seskali debu-debu jalan turut serta terombang-ambing bersama angin yang kemudian mengganggu penglihatanku, tetap saja kurasakan indah. Ada geli yang menjalar dalam perutku, entah tetiba dari mana.
Di balik punggung yang bidang, itu aku menikmati perjalanan pulang ini. Menikmati setiap detiknya, bahkan hiruk-pikuk jalanan yang sepantasnyalah bising. Sesekali kucuri kesempatan menatapnya dari pantulan cermin kecil di setir itu, tapi aku hanya mendapati pantulan punggungnya dan separuh wajahku. Tak apa, cukup itu saja. Aku menikmatinya.
Dalam hati aku berkomat-kamit agar jalan semakin padat hingga perjalanan ini akan jadi semakin panjang. Dalam hati kucoba masuki pikirannya dan memerintahkan agar tak memacu kendaraan ini terlalu cepat. Aku masih ingin memandangi kepalanya yang tak berbalut helm itu. Aku senang memandangi helai-helai rambutnya yang cepak itu, tak bergoyang meski ditiup angin.
Tuhan, kenapa tak kau buat aku dan dia saling jatuh cinta saja?
Rasanya ingin sekali kudekap dia. Punggung itu menggodaku untuk merangkulnya. Seandainya saja tak ada lagi malu dalam diriku. Ah... lelaki itu, baru saja memesonaku.
Dalam hati aku berkomat-kamit agar jalan semakin padat hingga perjalanan ini akan jadi semakin panjang. Dalam hati kucoba masuki pikirannya dan memerintahkan agar tak memacu kendaraan ini terlalu cepat. Aku masih ingin memandangi kepalanya yang tak berbalut helm itu. Aku senang memandangi helai-helai rambutnya yang cepak itu, tak bergoyang meski ditiup angin.
Tuhan, kenapa tak kau buat aku dan dia saling jatuh cinta saja?
Rasanya ingin sekali kudekap dia. Punggung itu menggodaku untuk merangkulnya. Seandainya saja tak ada lagi malu dalam diriku. Ah... lelaki itu, baru saja memesonaku.
***
Langkahku tak kusadari ternyata membawaku kemari. Di sini, aku mendapatinya tengah termenung sendiri. Matanya terhampar pada lapangan di hadapannya. Dari sorot matanya tergambar jelas ada sesuatu mengganggu hatinya. Sedih, itu kesimpulan awalku.
"Menyendiri lagi, menyendiri lagi~"
Kubongkar lamunannya dengan nyanyianku yang amat sumbang. Suaraku memang teramat parah, kau pasti setuju bila kukatakan lebih merdu mendengar suara kentut dibanding suaraku. Tapi saat ini setidaknya suaraku itu berguna karena bisa menyelamatkan seorang perempuan dari fenomena kerasukan makhluk halus.
Lehernya lalu menggerakkan kepalanya yang mengarahkan wajahnya kepadaku. Lekas-lekas ia luruhkan wajah lesunya dan mengganti dengan senyum simpul sebagai balasan atas nyanyianku. Sepertinya nyanyianku mengandung humor untuknya. Tapi tetap saja, aku masih bisa membaca kesedihan dalam senyum dengan kesan terpaksa itu.
Satu dua lelucon kulemparkan untuk membuka pembicaraan kami, sekaligus untuk sedikit memberi hiburan padanya. Rasanya tak enak melihat seorang perempuan bersedih.
Akhirnya dari situ cerita kami mengalir panjang. Aku biarkan saja, sekalipun memang membosankan mendengarkan cerita perempuan yang terkadang tidak sepemikiran dengan lelaki. Tapi tak mungkin juga kutinggalkan dia sendirian padahal telah sedari tadi ia sendirian. Tak mungkin kutambah kekecewaan dalam hatinya. Dari sini juga terungkap kesedihannya dialasankan oleh lelakinya yang menjanjikan datang untuk menjemputnya, tapi ternyata menghilang tak ada kabar setelahnya.
"Ya sudah. Bagaimana kalau kuantar pulang?"
Entah dari mana jiwa-jiwa pahlawan muncul dan memicu perkataan itu.
Matanya lalu jadi nampak berbinar seolah semangat hidupnya yang hilang telah kembali ia temukan. Dengan alasan-alasan klise ia menolak dengan malu-malu, tapi jiwa 'kepahlawananku' memaksaku untuk memaksanya. Lagipula ekspresi sumringah yang ia sembunyikan membuatku tak enak membatalkan tawaran sederhana itu.
Apa ini? Aku iba padanya?
Perlahan ia mulai duduk di belakangku. Ketika ia naik, motorku jadi sedikit oleng karena ia duduk dengan posisi menyamping, tapi kemudian aku menyeimbangkannya. Motorku melenggang untuk mengantarnya pulang. Semuanya baik saja, sampai kemudian aku menyadari satu hal.
Aku baru ingat, aku tak punya lagi uang untuk membeli bahan bakar dan bahan bakar yang tersisa dalam tangki motorku tidak lagi berlimpah.
Ah, sial! Semoga ini masih cukup untuk perjalanan menuju rumahku sendiri
---
mungkin. entahlah.
No comments:
Post a Comment