Tatapan yang Beradu

"kita hidup di dunia yang terlalu banyak batasan. dan aku mengerti kita sama-sama tak mampu melawan batasan-batasan itu" 


***

Aku menyukai tawanya yang manis dan renyah, seperti biskuit coklat yang tersuguh di dalam toples sewaktu sarapan pagi. Namun aku tak pernah mampu ikut terbahak bersamanya. Aku selalu sibuk merekam cara sudut-sudut bibirnya mengekspresikan kebahagiaan dalam wajahnya. Dan di waktu senggang, rekaman tentang senyumnya terproyeksi dalam kepalaku. Membuat aku ikut tersenyum dengannya tanpa sadar.

Dan aku menyadari telah tertarik kepada gadis itu. Tapi ada hal yang membuatku tak boleh menginginkannya. Dia adalah kakak kelas. Sebenarnya tak jadi soal kalau perempuan yang aku inginkan lebih tua, lebih muda, lebih kaya, atau lebih-lebih lainnya. Toh sekarang hal itu tidak jadi soal. Tapi ada hal yang membuat aku tak boleh menginginkannya; dia, terlalu alim.

Tak pernah kudapati dirinya tanpa kerudung. Saban hari ia kuperhatikan berjalan menuju masjid sekolah. Pada dasarnya, kalau mau dibandingkan, akupun tak kalah taat dalam beragama dibanding dia. Namun ada sesuatu, sesuatu yang membuat kesamaan itu jadi omong kosong belaka. Kami memang sama-sama taat, tapi pada jalan yang berbeda.

Ah, Entahlah! Buktinya aku masih saja membayangkannya sembari berharap dia juga akan senang pada senyumku – seperti aku suka senyumnya – sekalipun akal sehatku sudah berulang kali berucap ini semua Cuma buang waktu!

***
Kedua kaki yang sedang bertumpu di sebuah bahu itu adalah milik Glenn dan bahu itu milik temannya. Mereka sedang bekerja sama supaya jaring net bisa terpasang pada tiangnya. Glenn mengikat tali net sangat serius sampai kemudian telinganya menangkap gelombang suara seorang gadis yang sudah tidak asing baginya. Ia mendengar suara Azwa, kakak kelas yang akhir-akhir ini sering dia pandangi.

Mata Glenn melirik ke arah Azwa yang baru saja datang. Ia memperhatikan bagaimana Azwa dengan ceria menyapa teman-temannya. Jemari Glenn tetap sibuk dengan net sekalipun tatapan matanya tidak. Telinga Glenn tetiba menjadi sangat peka menangkap setiap candaan yang meluncur dari bibir Azwa. Tatapannya begitu serius memperhatikan setiap pergerakan otot yang terjadi di wajah Azwa.

Azwa berdiri di pinggir lapangan, menyambung cerita dan tertawa-tawa dengan teman-temannya. Sesekali Azwa menikmati pemandangan orang-orang yang tengah mengasah kemampuannya memainkan bola volli di lapangan.

Glenn menyisihkan diri ke pinggir lapangan, mengatur nafas sebelum melanjutkan permainan sembari curi-curi pandang pada perempuan itu.

Lalu mata Azwa tanpa sengaja bertemu dengan mata Glenn.  Azwa berfikir pandangan Glenn hanya kebetulan saja jatuh padanya. Azwa tak mengalihkan pandangan, berharap juniornya itu yang akan menyadari apa yang seharusnya dia lakukan; berhenti menatapnya. Tapi tidak, Glenn tak mengalihkan pandangannya. Pandangan mereka beradu. Lebih lama dari sesuatu yang kebetulan. Akhirnya Azwa memilih mengalah dan memindahkan arah pandangannya.

Ia mencoba bersikap biasa saja. Padahal dalam dadanya ada gugup yang menyertai peralihan arah pandangnya. Rasa gugup itu merekah, seperti kuncup yang baru mekar.
 ..........

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...