Tatapan yang Beradu #2

.......
Ada satu tatapan mata, yang akhir-akhir ini selalu mengusikku. Tatapan mata yang sayu dan aneh. Tatapan mata yang seolah punya isyarat yang tak dapat aku mengerti di dalamnya.

  Tuhan, kumohon ampuni aku! Tatapan itu membuatku berangan-angan. Membuat khayalanku jadi tidak terkendali. Membuat aku lalai. Aku mengerti, bukanlah pada tempatnya untuk aku seperti ini.
                                                            
Tapi, tuhanku, tatapan itu sungguh mengusik. Terlalu sering bila disebut kebetulan. Seperti kali itu, bagaimana kami berpapasan di ujung tangga. Lalu di akhir pertemuan tak sengaja kami itu ia masih melemparkan tatapan itu. Yang membuat aku begitu yakin itu bukanlah sesuatu yang kebetulan.

Mengapa ia menatapku seperti itu? Tak seharusnya ia menatap seorang senior seperti itu. Dan kenapa juga aku yang harus begitu peduli. Sedang aku yakin saat ini ia tengah baik-baik saja. Menikmati dunianya, mungkin juga perempuannya. Lalu aku disini yang sibuk memikirkannya.

Tuhan, ampunilah hambamu yang lalai ini.

***
Dokumen-dokumen di atas meja sudah habis dipelototi Glenn. Sebetulnya Glenn tengah menunggu petugas perpustakaan dengan maksud ingin mengembalikan buku. Tapi yang ia tunggu ternyata sedang tak berada di tempat. Meski begitu, Glenn masih dengan sabar menunggu petugas perpustakaan yang tengah berada entah dimana.

Dari balik rak buku yang berjejer, muncul Azwa yang baru saja menikmati beberapa halaman dari buku perpustakaan. Ia berjalan menuju pintu bermaksud ingin keluar. Tentu saja ini menjadi satu-satunya obyek yang dipandangi Glenn. Dalam hati Glenn terbit rasa syukur. Satu lagi episode kebetulan yang menyenangkan, pikirnya.

Azwa sadar dengan kehadiran Glenn. Namun ia hanya pura-pura bertingkah tidak melihat sosoknya yang tengah berdiri di sisi meja di dekat pintu itu. Ia terus berjalan menuju pintu. Tangannya meraih gagang dan mencoba memutarnya. Namun berulang kali terdengar bunyi ‘klik’ dari gagang pintu itu, tapi pintu tidak juga terbuka. Azwa mendobrak-dobrak pintu, tapi tidak terjadi apa-apa.

Dengan sedikit ragu Glenn menghampiri Azwa yang nampak kesusahan itu. Dengan malu-malu Glenn menawarkan bantuan kepada Azwa. Tapi ternyata Glenn tidak cukup kuat untuk membuat pintu itu terbuka. Mereka menyerah. Sebesar apapun usaha mereka, tetap saja pintu itu bersikeras tak ingin membuka diri. Azwa kesal. Kekesalannya dilampiaskan dengan keluhan-keluhan khas anak perempuan. Glenn hanya diam dengan rasa canggung yang menjalar dalam dirinya.

“Jadi, kau, apa yang kau lakukan di sini?”, tanya Azwa membuka percakapan.

Pertanyaan itu menyentak Glenn. Membuat rasa canggung itu berubah menjadi gugup. Padahal itu adalah pertanyaan jawabannya mudah saja. Tapi ia jadi bingung harus menjawab apa.

“Ah, aku, aku sedang ingin mengembalikan buku”

Setelahnya muncul pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban klise yang menghapus rasa canggung itu perlahan. Perbincangan mereka mengalir begitu saja. Topiknya mulai dari seberapa sering keduanya pergi ke perpustakaan, hingga bagaimana perkembangan latihan volli mereka.

Mereka memperbincangkan banyak hal. Keduanya sepertinya menikmati suasana yang tiba-tiba jadi seakrab itu. Namun mereka sampai pada akhirnya; mereka kehabisan topik pembicaraan.

Canggung kembali menguasai mereka. Keduanya jadi tak tahu apa yang harus dilakukan. Suasana yang menyenangkan dengan begitu banyak cerita jadi terasa membingungkan. Menatap sembarang arah menjadi jalan keluar mereka. Seluruh ruangan disapu dengan tatapan mereka. Hingga akhirnya tatapan mereka jatuh tepat pada pupil mata keduanya.

Tatapan mereka beradu. Tiga detik. Lima detik. Sepuluh detik. Bahkan lebih. Keduanya menelan ludah. Keduanya tak ada yang mengalihkan pandangan. Diantara mereka tak ada lagi yang berani memulai kata. Sebab tatapan mereka sudah mengatakan isyarat yang sama, “Cukup sudah basa-basinya, sekarang mendekatlah”.

Jarak mereka tidaklah jauh. Perlahan Glenn semakin mengurangi jarak diantara mereka. Jantung mereka semakin memburu. Glenn semakin condong ke arah Azwa. Kini mereka sudah bisa saling merasakan nafas sebab jarak batang hidung mereka terlampau dekat. Telapak tangan Glenn perlahan menjangkau punggung tangan Azwa. Bibir mereka akhirnya menempel tak berjarak. Melekat begitu hangat.

Azwa tersentak seolah sadar telah melakukan dosa. Sayang sekali kejadian itu tak dapat berlangsung lebih lama. Dengan segera Azwa memalingkan wajah tanpa sepatah kata. Ia menggigit bibir. Glenn pun terkejut. Sadar telah bertindak yang tak sepantasnya, maaf lantas terucap dari bibirnya yang nyaris saja beradu dengan bibir Azwa.

Hening kembali menguasai mereka. Keduanya jadi diantarai pikiran masing-masing. Glenn benar-benar merasa kesal pada dirinya sendiri telah melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan itu.

“Tidak. Tidak perlu minta maaf. Aku juga salah.”

“Aku benar-benar minta maaf, ‘kak. Tapi sebenarnya aku menyukaimu sudah lama.” Dalam hati Glenn mengumpat pada dirinya sendiri. Ia merasa bodoh telah melakukan hal itu, dan merasa bodoh karena seolah tanpa diperintahkan, bibirnya mengucapkan pernyataan sebesar itu. Ia berharap hari ini bisa dia hapuskan.

Mata Azwa menyala mendengar pernyataan Glenn. Tanpa dinyana Azwa memeluk Glenn dengan amat erat bagai Glenn akan menghilang bila tak ia dekap. Glenn terkejut. Ia jadi bingung harus diam atau balas memeluk atau melepaskannya.

“Aku, aku juga sama sepertimu. Namun sebanyak apapun kita berharap satu sama lain, kita tidak akan bisa bersama. Kita hidup di dunia yang terlalu banyak batasan. Dan aku mengerti kita sama-sama tak mampu melawan batasan-batasan itu. Maka anggap saja ini salam perpisahan untuk perasaan kita”.

Seperti sepasang kekasih yang dilanda rindu bertahun-tahun, mereka saling memeluk dengan amat eratnya. Keduanya saling menumpahkan rasa dalam dekapan mereka. Sebab setelah ini, mereka tak boleh lagi bahkan hanya untuk saling merindukan.

Setelahnya, tanpa aba-aba mereka melepaskan dekapan itu bersamaan. Mereka seolah sudah saling mengerti bahwa dekapan mereka sudah cukup. Dari raut wajah mereka nampak keputusasaan. Namun di hati mereka telah merasa lega karena keduanya tahu, perasaan mereka tidaklah bertepuk sebelah tangan. Sungguh kebetulan yang indah, pikir mereka.

“Apa yang kalian lakukan?”. Tanya petugas perpustakaan yang baru datang mengejutkan mereka berdua. Seperti orang yang tertangkap basah, mereka menjadi salah tingkah.

“A-Aku tadi mau keluar, tapi sepertinya pintunya terkunci.”


“Apa? Tidak ada yang mengunci pintu. Gagang pintu bagian dalam itu memang rusak. Pintu itu hanya bisa dibuka dari luar. Makanya aku tidak pernah menutup pintu. Kalau begitu, sebenarnya siapa yang sudah menutup pintu?”

 ***

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...