.......
Ada satu tatapan mata,
yang akhir-akhir ini selalu mengusikku. Tatapan mata yang sayu dan aneh.
Tatapan mata yang seolah punya isyarat yang tak dapat aku mengerti di dalamnya.
Tuhan, kumohon ampuni
aku! Tatapan itu membuatku berangan-angan. Membuat khayalanku jadi tidak
terkendali. Membuat aku lalai. Aku mengerti, bukanlah pada tempatnya untuk aku
seperti ini.
Tapi, tuhanku, tatapan
itu sungguh mengusik. Terlalu sering bila disebut kebetulan. Seperti kali itu,
bagaimana kami berpapasan di ujung tangga. Lalu di akhir pertemuan tak sengaja
kami itu ia masih melemparkan tatapan itu. Yang membuat aku begitu yakin itu
bukanlah sesuatu yang kebetulan.
Mengapa ia menatapku
seperti itu? Tak seharusnya ia menatap seorang senior seperti itu. Dan kenapa
juga aku yang harus begitu peduli. Sedang aku yakin saat ini ia tengah
baik-baik saja. Menikmati dunianya, mungkin juga perempuannya. Lalu aku disini
yang sibuk memikirkannya.
Tuhan, ampunilah hambamu
yang lalai ini.
***
Dokumen-dokumen di atas
meja sudah habis dipelototi Glenn. Sebetulnya Glenn tengah menunggu petugas
perpustakaan dengan maksud ingin mengembalikan buku. Tapi yang ia tunggu
ternyata sedang tak berada di tempat. Meski begitu, Glenn masih dengan sabar
menunggu petugas perpustakaan yang tengah berada entah dimana.
Dari balik rak buku yang
berjejer, muncul Azwa yang baru saja menikmati beberapa halaman dari buku
perpustakaan. Ia berjalan menuju pintu bermaksud ingin keluar. Tentu saja ini
menjadi satu-satunya obyek yang dipandangi Glenn. Dalam hati Glenn terbit rasa
syukur. Satu lagi episode kebetulan yang menyenangkan, pikirnya.
Azwa sadar dengan
kehadiran Glenn. Namun ia hanya pura-pura bertingkah tidak melihat sosoknya
yang tengah berdiri di sisi meja di dekat pintu itu. Ia terus berjalan menuju
pintu. Tangannya meraih gagang dan mencoba memutarnya. Namun berulang kali
terdengar bunyi ‘klik’ dari gagang pintu itu, tapi pintu tidak juga terbuka. Azwa
mendobrak-dobrak pintu, tapi tidak terjadi apa-apa.
Dengan sedikit ragu Glenn
menghampiri Azwa yang nampak kesusahan itu. Dengan malu-malu Glenn menawarkan
bantuan kepada Azwa. Tapi ternyata Glenn tidak cukup kuat untuk membuat pintu
itu terbuka. Mereka menyerah. Sebesar apapun usaha mereka, tetap saja pintu itu
bersikeras tak ingin membuka diri. Azwa kesal. Kekesalannya dilampiaskan dengan
keluhan-keluhan khas anak perempuan. Glenn hanya diam dengan rasa canggung yang
menjalar dalam dirinya.
“Jadi, kau, apa yang kau
lakukan di sini?”, tanya Azwa membuka percakapan.
Pertanyaan itu menyentak
Glenn. Membuat rasa canggung itu berubah menjadi gugup. Padahal itu adalah pertanyaan
jawabannya mudah saja. Tapi ia jadi bingung harus menjawab apa.
“Ah, aku, aku sedang
ingin mengembalikan buku”
Setelahnya muncul
pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban klise yang menghapus rasa canggung
itu perlahan. Perbincangan mereka mengalir begitu saja. Topiknya mulai dari
seberapa sering keduanya pergi ke perpustakaan, hingga bagaimana perkembangan
latihan volli mereka.
Mereka memperbincangkan
banyak hal. Keduanya sepertinya menikmati suasana yang tiba-tiba jadi seakrab
itu. Namun mereka sampai pada akhirnya; mereka kehabisan topik pembicaraan.
Canggung kembali
menguasai mereka. Keduanya jadi tak tahu apa yang harus dilakukan. Suasana yang
menyenangkan dengan begitu banyak cerita jadi terasa membingungkan. Menatap
sembarang arah menjadi jalan keluar mereka. Seluruh ruangan disapu dengan
tatapan mereka. Hingga akhirnya tatapan mereka jatuh tepat pada pupil mata
keduanya.
Tatapan mereka beradu.
Tiga detik. Lima detik. Sepuluh detik. Bahkan lebih. Keduanya menelan ludah.
Keduanya tak ada yang mengalihkan pandangan. Diantara mereka tak ada lagi yang
berani memulai kata. Sebab tatapan mereka sudah mengatakan isyarat yang sama,
“Cukup sudah basa-basinya, sekarang mendekatlah”.
Jarak mereka tidaklah
jauh. Perlahan Glenn semakin mengurangi jarak diantara mereka. Jantung mereka
semakin memburu. Glenn semakin condong ke arah Azwa. Kini mereka sudah bisa
saling merasakan nafas sebab jarak batang hidung mereka terlampau dekat.
Telapak tangan Glenn perlahan menjangkau punggung tangan Azwa. Bibir mereka
akhirnya menempel tak berjarak. Melekat begitu hangat.
Azwa tersentak seolah
sadar telah melakukan dosa. Sayang sekali kejadian itu tak dapat berlangsung
lebih lama. Dengan segera Azwa memalingkan wajah tanpa sepatah kata. Ia menggigit
bibir. Glenn pun terkejut. Sadar telah bertindak yang tak sepantasnya, maaf
lantas terucap dari bibirnya yang nyaris saja beradu dengan bibir Azwa.
Hening kembali menguasai
mereka. Keduanya jadi diantarai pikiran masing-masing. Glenn benar-benar merasa
kesal pada dirinya sendiri telah melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan
itu.
“Tidak. Tidak perlu
minta maaf. Aku juga salah.”
“Aku benar-benar minta
maaf, ‘kak. Tapi sebenarnya aku menyukaimu sudah lama.” Dalam hati Glenn
mengumpat pada dirinya sendiri. Ia merasa bodoh telah melakukan hal itu, dan
merasa bodoh karena seolah tanpa diperintahkan, bibirnya mengucapkan pernyataan
sebesar itu. Ia berharap hari ini bisa dia hapuskan.
Mata Azwa menyala
mendengar pernyataan Glenn. Tanpa dinyana Azwa memeluk Glenn dengan amat erat
bagai Glenn akan menghilang bila tak ia dekap. Glenn terkejut. Ia jadi bingung
harus diam atau balas memeluk atau melepaskannya.
“Aku, aku juga sama
sepertimu. Namun sebanyak apapun kita berharap satu sama lain, kita tidak akan
bisa bersama. Kita hidup di dunia yang terlalu banyak batasan. Dan aku mengerti
kita sama-sama tak mampu melawan batasan-batasan itu. Maka anggap saja ini
salam perpisahan untuk perasaan kita”.
Seperti sepasang kekasih
yang dilanda rindu bertahun-tahun, mereka saling memeluk dengan amat eratnya.
Keduanya saling menumpahkan rasa dalam dekapan mereka. Sebab setelah ini,
mereka tak boleh lagi bahkan hanya untuk saling merindukan.
Setelahnya, tanpa
aba-aba mereka melepaskan dekapan itu bersamaan. Mereka seolah sudah saling
mengerti bahwa dekapan mereka sudah cukup. Dari raut wajah mereka nampak
keputusasaan. Namun di hati mereka telah merasa lega karena keduanya tahu,
perasaan mereka tidaklah bertepuk sebelah tangan. Sungguh kebetulan yang indah,
pikir mereka.
“Apa yang kalian
lakukan?”. Tanya petugas perpustakaan yang baru datang mengejutkan mereka
berdua. Seperti orang yang tertangkap basah, mereka menjadi salah tingkah.
“A-Aku tadi mau keluar,
tapi sepertinya pintunya terkunci.”
“Apa? Tidak ada yang
mengunci pintu. Gagang pintu bagian dalam itu memang rusak. Pintu itu hanya
bisa dibuka dari luar. Makanya aku tidak pernah menutup pintu. Kalau begitu,
sebenarnya siapa yang sudah menutup pintu?”
***
No comments:
Post a Comment