Atheis

segala keangkuhan telah menjelma ular
menjalar dari ubun-ubun hingga ujung kaki
di dalam urat nadi dan menyatu ke dalam darah

tidak ada yang pernah benar-benar tahu seperti apa dunia setelah kematian
kecuali surga dan neraka itu sendiri
manusia hanya wujud yang lebih indah dari rendah dan kotornya tanah
yang kemudian tenggelam dalam ketidakpastian
lalu belajar untuk lupa seperti apa semua bermula

namun pertanyaan kemudian membias menumbuhkan kesadaran

adakah tuhan yang engkau sangsikan
pernah membuatmu terjatuh dan tidak mengangkatmu kembali?
lalu kau menepis genggamannya dan memilih dipapah oleh kesombonganmu
adakah tuhan yang engkau sangsikan
menciptakan pada perutmu rasa lapar dan tidak memberimu sepotong roti?
lalu kau lebih memilih bara api dan kotoran yang penuh dusta untuk menghalau laparmu
adakah tuhan yang engkau sangsikan
pernah membuatmu menangis dan tidak membawa tawa untuk menghapus lukamu setelahnya?
lalu kau menganggap tawa itu adalah hiburan yang mampu kau ciptakan sendiri
adakah tuhan yang engkau sangsikan
pernah membawamu ke dalam kegelapan dan tidak memberimu jalan yang penuh indahnya kerlip bintang?
lalu kau menolak untuk mengikuti bintang yang telah diutus menuntunmu
adakah tuhan yang engkau sangsikan
pernah memiliki pesaing yang sanggup mencintaimu lebih daripada Dia?
lalu kau selalu menyakiti perasaan-Nya dengan terus mengagungkan cinta yang sebenarnya fana

dan manusia tetap saja menolak percaya
padahal tak ada yang pernah benar-benar tahu seperti apa kehidupan setelah mati
kecuali surga dan neraka itu sendiri


(Februari 2016)

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...