Pecandu Drama



Aku berandai: kita hidup di dalam sebuah skenario. Barangkali aku bisa mengharapkan rentetan kebetulan yang membawa kita pada adegan-adegan klise nan memuakkan.
Aku membayangkan di suatu malam sekelompok penjahat mengerumuniku layaknya gula. Lalu kau yang tetiba melintas, bak pahlawan membasmi mereka dan menawarkan mengantar pulang.

Boleh juga jika kau jadi seorang konglomerat dan aku babu yang tiba-tiba bertemu nenekmu yang sakit-sakitan yang begitu terpikat pada tabiatku dan membawaku tinggal bersama kalian.

Semua boleh-boleh saja. Tapi kenyataannya hidup bukanlah skenario drama. Takdirku hanya sebatas perempuan canggung serba biasa dengan perasaan yang meletup-letup di dada. Tak ada kemujuran hidup seperti gadis-gadis pemeran utama.

Kau pasti setuju bila aku berhenti menyaksikan drama seri dari negeri-negeri asing. Sebab kau pun pasti lelah selalu turut terseret dalam bualan di kepalaku. Namun percayalah, lelahmu tidaklah seberapa. Sanggupkah kau menangis melihat adegan sedih yang sejatinya tak pernah menyentuh hatimu? Aku sanggup. Sebab sejatinya air mata itu asalnya dari rindu yang tidak tahu ingin  meluap kemana.


(1/11/16)

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Mati Memeluk Gitar

Aku memandangnya dari deret kursi terakhir di gedung ini. Kali ini lebih dari pucuk hidung yang selalu membuai imajinasiku. Permata ber...